<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rss version="0.91">
  <channel>
    <title>Katon Bagaskara</title>
    <link>http://puisikaton.blogdrive.com/</link>
    <description>Puisi Bebas Katon Bagaskara</description>
    <lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2005 10:50:02 PST</lastBuildDate>
    <generator>http://www.blogdrive.com</generator>
    <copyright>Copyright 2005.</copyright>
    <category>Poetry</category>
    <category>Writing</category>
    <category>Music</category>
    <item>
      <title>HEIDELBERG</title>
      <link>http://puisikaton.blogdrive.com/archive/5.html</link>
      <pubDate>Wed, 23 Nov 2005 18:45:21 GMT</pubDate>
      <description>
8 July 2001
 
HEIDELBERG



 
Bagai lumut yang tumbuh
di sela2 batuan jalanan
kota tuamu memanggil jejakku
menyulut cinta yang tak pernah mati
 
Angin merintih di pegunungan
Puing2 diam
menyesali muram perpisahan
 
Kastil rinduku
 masih tegak disana
merah tersentuh mentari asa
namun rapuh berkesan
alam yang 
tak sanggup ku lawan
 
Lamat2 kuingat,
kecupan erat
kala lonceng gereja berdentang
bersama airmatamu tergenang
mengaliri sungai Neckar 
 
Di menara jembatan itu
aku termangu
Merenda haru
cinta kita tak mungkin bersatu
 
Ingin rasanya
hidup di masa... (more)</description>
      <comments>http://puisikaton.blogdrive.com/comments?id=5</comments>
    </item>
    <item>
      <title>I.C.E.</title>
      <link>http://puisikaton.blogdrive.com/archive/4.html</link>
      <pubDate>Mon, 21 Feb 2005 10:16:39 GMT</pubDate>
      <description>Kereta Cepat I.C.E

Hannover - Berlin

9 July 2001
 
I.C.E
 
Tanpa riuh kereta terus laju
di tiap rodanya terlumas semangatku
 
Dari balik kaca jendela kutatap
awan kenangan bergeriap
kejar berlari dengan
libur yang hampir usai
 
Disini,
di sakuku
tertitip segenggam inspirasi
mendesak dada ambisi
tak sabar lagi
 
Oh….datanglah  musim dinanti
Serumpun karya segar
siap dituai


</description>
      <comments>http://puisikaton.blogdrive.com/comments?id=4</comments>
    </item>
    <item>
      <title>OBSESI PUTIH</title>
      <link>http://puisikaton.blogdrive.com/archive/3.html</link>
      <pubDate>Thu, 10 Feb 2005 16:07:24 GMT</pubDate>
      <description>Manhattan Beach
Los Angeles, 8 November 2003

 
 
 OBSESI PUTIH



Langit jernih biru

yang memayungi kerinduanku,
gerak awan putih membayangi
hamparan perasaanku tiada bertepi
di luas samutra penantian
 
Buih ombak terbang yang mengiringi keyakinanku
deburan jantung mengaliri sepi
telah sekian kali musim dingin berganti
kehangatanmu terasa s’lalu menemani
 
Setiap pagi,
kala terbitnya mentari
kutemui senyumanmu
 
Sepanjang hari
melangkah di pasir mimpi
kumendengar,
desiran swaramu
 
Setiap malam,
berbincang dengan sang bulan
kudapati, ceritamu
 
Sepanjang... (more)</description>
      <comments>http://puisikaton.blogdrive.com/comments?id=3</comments>
    </item>
    <item>
      <title>GELISAH</title>
      <link>http://puisikaton.blogdrive.com/archive/2.html</link>
      <pubDate>Wed, 09 Feb 2005 16:02:44 GMT</pubDate>
      <description>Bandara Soekarno-Hatta

Jakarta, 12 Mei 2000
 
 
GELISAH
 
Mengais tenaga,
mengusir kantuk
Ini hari awal
Rangkaian penat bakal menjejal
 
Lagi-lagi terbawa
butiran resah gelitiki benakku
 
Hidup………oh hidup!
Mesti dijalani,
lengkap dengan misterinya
mengintip di balik tikungan
yang akan kulewati
 
Pengapnya hidup
udara yang terhirup
kadang beraroma
yang tak kusuka
 
Dari jauh kupandang
tepekur meringkuk
satu sosok
(yang ternyata)
tak bisa lepas 
satu sentipun
daripadaMu


</description>
      <comments>http://puisikaton.blogdrive.com/comments?id=2</comments>
    </item>
    <item>
      <title>KAU DAN PUISI</title>
      <link>http://puisikaton.blogdrive.com/archive/1.html</link>
      <pubDate>Tue, 08 Feb 2005 13:03:33 GMT</pubDate>
      <description>Paviliun SMP Asisi, Tebet
Jakarta 1983
 
 
 
KAU DAN PUISI
 
 
Kau bagiku 
adalah jelmaan puisi
kerap kutemui
pada raut pagi
di antara daun basah 
dan bau tanah lembab,
senyum matahari 
merah tembaga mega 
di cakrawala,
semilir bayu menerpa
mengusik hati hampa
 
pada larut malam
pesta bintang gemintang
kala bulan jadi raja
Saat hati menjerit
berkawan dentingan 
dawai-dawai gitar
 
Kau bagiku 
adalah jelmaan puisi
siratan harap nurani
meski batin di dalam 
belum lagi berani


</description>
      <comments>http://puisikaton.blogdrive.com/comments?id=1</comments>
    </item>
  </channel>
</rss>
